SMKS NH

Kembali ke Beranda
https://www.google.com/url?sa=i&url=https%3A%2F%2Fwww.avesiar.com%2F2021%2F11%2F19%2Fmengenal-ibnu-sina-atau-avicenna-filsuf-dan-apak-bapak-pengobatan-modern%2F&psig=AOvVaw1f9zpjQaltlhL_Tga-mdbG&ust=1673706870101000&source=images&cd=vfe&ved=0CBAQjRxqFwoTCMjIyN7hxPwCFQAAAAAdAAAAABAE
Karya_Siswa

Ibnu Sina, Seorang Muslim yang Merupakan Bapak Kedokteran Dunia

January 13, 2023 Hazim TKJ

Ibnu Sina, lebih dikenal di dunia barat sebagai Avicenna, miliki nama lengkap Abu Ali al-Huseyn bin Abdullah bin Hasan Ali bin Sina. Mempunyai julukan al-Ra’s (puncak gunung pengetahuan). Menurut Ibnu Khallikan, Al-Qifti dan Baihaqi, Ibnu Sina lahir pada bulan Syafar 370 H atau Agustus 980 M di desa Afsanah, Bukhara, Uzbekistan. Ayahnya, Abdullah, dan Ibunya yang bernama Sitarah, adalah keturunan Persia, sehingga saat remaja Ibnu Sina sering menulis puisi dan esai dalam bahasa Persia.

Dapat dikatakan bahwa keluarga Ibnu Sina adalah keluarga yang sejahtera. Ayahnya diangkat menjadi gubernur sebuah distrik di Bukhara pada masa pemerintahan penguasa Samaniyyah, Nuh II bin Mansyur. Berasal dari keluarga kaya, orang tua Ibnu Sina berusaha memberikan pendidikan yang terbaik untuk anaknya. Ayah Ibnu Sina adalah seorang Muslim dari sekte Ismaili (Syiah). Rumahnya menjadi pusat kegiatan ulama dan cendekiawan terkenal saat itu. Mereka melakukan banyak kegiatan diskusi untuk membahas berbagai isu. Dari diskusi tersebut, Ibnu Sina memahami ilmu yang luas.

Ibnu Sina telah menunjukkan kecerdasan luar biasa sejak kecil. Ibnu Sina tidak hanya memiliki pikiran analitis yang kuat, tetapi juga daya ingat yang sangat kuat. Ketika Ibnu Sina berusia 5 tahun, orang tua Ibnu Sina mulai memberinya pendidikan logika dan agama dasar. Pada usia 10 tahun, Ibnu Sina sudah menghafal Alquran. Ia juga mempelajari ilmu Fiqh dan Syariah.

Tidak hanya mempelajari agama, setelah mempelajari teologi, Ibnu Sina mulai terjun ke dunia filsafat hingga berusia 16 tahun. Ibnu Sina juga belajar di bawah bimbingan Abu Abdullah An-Naqili, mempelajari kitab Isaghuji dalam logika dan Berbagai Aktivitas Euclid dalam matematika. Setelah itu ia belajar secara otodidak dan menekuni bidang matematika hingga berhasil menguasai Almagest of Ptolemy dan menguasai disiplin ilmu alam. Ibnu sering kali mampu menyelesaikan soal-soal Ilmiah yang bahkan tidak dapat diselesaikan oleh gurunya.

Semangat Ibnu Sina untuk belajar tidak berhenti pada teologi dan matematika, karena ia kemudian belajar ilmu kedokteran dengan gurunya yaitu Abu Manshur al-Qamari, penulis kitab Al-Hayat Wa al-Maut, dan Abu Sahal Isa bin Yahya. al-Jurjani, penulis ensiklopedia medis Al-Kitab Al-Mi’ah Fi Shina’atih Thib. Ibnu Sina akhirnya menguasai kedokteran dalam waktu satu setengah tahun. Tidak dapat dipungkiri bahwa Ibnu Sina adalah seorang yang bijaksana, ia tidak menyia-nyiakan masa mudanya untuk hal-hal yang tidak berguna, ia selalu menghabiskan waktunya untuk mempelajari berbagai ilmu hingga ia menguasainya.

Tidak heran, pada usia 16 tahun, Ibnu Sina menjadi pusat perhatian para dokter pada saat itu. Mereka sering bertemu dengannya untuk membahas penemuan-penemuan di bidang kedokteran. Pada usia yang sama ia mampu menyembuhkan penyakit Sultan Samaniyyah, Nuh bin Mansur (976-997), sehingga ia diberikan hak istimewa untuk menggunakan perpustakaan besar milik raja.

Diberkati dengan kemampuan luar biasa dalam menyerap dan menyimpan ilmu, ilmuwan muda Persia ini membaca setiap buku di perpustakaan mili raja hingga akhirnya menguasai semua ilmu yang ada pada zamannya, meskipun ia lebih dikenal di bidangnya. filsafat dan kedokteran. Pada usia 21 tahun, Ibnu Sina mulai menulis karya-karya monumental dalam berbagai bidang keilmuan, dengan karya pertamanya berjudul Al-Majmu’u (Ikhtisar), yang memuat berbagai ilmu umum.

Ibnu Sina tidak pernah berhenti membaca dan tidak pernah lelah menulis buku. Bahkan, ia dikenal kuat dalam memikul tanggung jawab dan sering tidak tidur di malam hari hanya karena membaca dan menulis. Selain itu, Ibnu Sina tidak menerima gaji untuk mengobati orang sakit. Bahkan, ia banyak memberikan sedekah kepada orang miskin hingga akhir hayatnya.

Ibnu Sina wafat pada tahun 428 H (1037 M) dalam usia 58 tahun di Hamdzan, Persia. Beliau wafat karena penyakit usus. Semasa hidupnya, Ibnu Sina memberikan kontribusi yang luar biasa bagi kemajuan ilmu pengetahuan. Pemikiran-pemikiran Ibnu Sina tentang berbagai ilmu banyak diadopsi oleh para ilmuwan pada masa setelahnya, tidak hanya ilmuwan Muslim tetapi juga banyak ilmuwan Barat yang mengadopsi ilmu dari karya-karya Ibnu Sina. Untuk memperingati 1000 tahun hari kelahirannya, Ibnu Sina diproklamasikan sebagai “Bapak Kedokteran” selamanya melalui event Fair Millenium di Teheran pada tahun 1955.

Kabar Lainnya